Selamat Datang di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi

WhatsApp Icon 1




Belajar, Bukan Menghakimi: Meneguhkan Nilai Luhur Pesantren
15 Oct 2025
Belajar, Bukan Menghakimi: Meneguhkan Nilai Luhur Pesantren


Belajar, Bukan Menghakimi: Meneguhkan Nilai Luhur Pesantren




Beberapa hari terakhir, publik dibuat ramai oleh tayangan sebuah acara televisi yang menggambarkan kehidupan pesantren secara tidak proporsional. Dalam program Xpose Uncensored di Trans7, tradisi santri dan kiai dipotret dengan cara yang menimbulkan kesalahpahaman: hubungan kiai dan santri disebut feodal, pemberian amplop dianggap transaksional, dan kehidupan santri yang sederhana disorot seolah sebagai keterbelakangan.

Narasi seperti ini bukan hanya keliru, tapi juga mencederai nilai-nilai luhur yang selama berabad-abad dijaga oleh pesantren di seluruh Nusantara. Pesantren bukan sekadar tempat belajar agama; ia adalah madrasah kehidupan tempat santri belajar menjadi manusia seutuhnya — berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Hubungan Kiai dan Santri: Adab sebagai Inti Pendidikan

Di pesantren, kiai bukan sekadar pengajar, tetapi pendidik jiwa. Santri menghormati kiai bukan karena status sosial, melainkan karena kedalaman ilmu dan keteladanan moral. Sikap hormat yang dalam — bahkan sampai mencium tangan atau menunduk saat berhadapan — bukanlah tanda feodalisme, melainkan bentuk adab terhadap ilmu.

Dalam Islam, ilmu tidak akan bermanfaat tanpa adab. Karena itu, pesantren menanamkan prinsip man la adaba lah, la ‘ilma lah — siapa yang tak beradab, tak akan mendapat ilmu. Maka, wajar jika santri diajarkan untuk rendah hati di hadapan gurunya. Bukan untuk merendahkan diri, tetapi agar ilmu yang didapat menjadi berkah.

Tradisi Memberi: Ekspresi Syukur, Bukan Transaksi

Dalam tayangan tersebut, amplop yang diberikan kepada kiai disorot dengan kacamata duniawi. Padahal dalam tradisi pesantren, pemberian dari santri atau wali santri adalah ungkapan terima kasih dan penghormatan. Nilainya bukan pada isi amplop, tapi pada niat yang menyertainya: niat berbagi, berterima kasih, dan mencari keberkahan dari guru.

Tradisi seperti ini telah ada sejak masa para ulama terdahulu. Rasulullah SAW sendiri menerima hadiah dari sahabat-sahabatnya, bukan karena beliau membutuhkan, tapi karena hadiah adalah tanda cinta dan penghargaan. Itulah makna yang hidup di pesantren hingga kini.

Kesederhanaan Santri: Jalan Menuju Kemandirian

Kesederhanaan santri — tidur di asrama beralas tikar, makan bersama seadanya, belajar dengan kitab-kitab kuning — sering disalahpahami sebagai keterbelakangan. Padahal, di situlah letak keistimewaannya. Kesederhanaan adalah sekolah keikhlasan dan kemandirian.

Santri belajar bahwa hidup bukan tentang kenyamanan, tapi tentang perjuangan. Mereka diajarkan untuk bersyukur dalam keterbatasan dan tidak menyerah pada keadaan. Dari asrama yang sempit itu lahirlah tokoh-tokoh besar: ulama, pendidik, dan pejuang bangsa.

Pesantren: Penjaga Akhlak Bangsa

Sejarah Indonesia tak bisa dipisahkan dari pesantren. Dari lembaga inilah lahir semangat kemerdekaan dan pendidikan moral bangsa. Kiai dan santri berjuang bukan untuk pamrih, tapi untuk menjaga kehormatan agama dan negara.

Karena itu, menggambarkan pesantren secara negatif sama saja dengan melukai akar budaya spiritual bangsa. Pesantren adalah benteng moral — tempat nilai-nilai kesabaran, kejujuran, dan keberkahan dijaga di tengah arus dunia yang semakin materialistis.


---

Belajar dari Pesantren

Media seharusnya menjadi jembatan pemahaman, bukan sumber salah tafsir. Sebelum menilai pesantren, datanglah dan rasakan kehidupan di dalamnya. Duduklah bersama santri, dengarkan nasihat kiai, dan lihat bagaimana ilmu ditanamkan dengan cinta, bukan paksaan.

Pesantren tidak butuh pembelaan dengan kata-kata keras, tapi dengan keteladanan dan kesabaran. Sebab, dari kesabaran itulah lahir ilmu yang mencerahkan — dan dari ilmu yang berkah itulah lahir bangsa yang beradab.

Oleh: Fadil Hasan