Selamat Datang di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi

WhatsApp Icon 1




Dari Satu Malam Menuju Jalan Panjang Peradaban
16 Jan 2026
Dari Satu Malam Menuju Jalan Panjang Peradaban


Dari Satu Malam Menuju Jalan Panjang Peradaban

Membaca Hikmah Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Di tengah sunyinya malam Makkah, ketika luka dakwah masih basah dan duka belum kering, Nabi Muhammad SAW dipanggil oleh Allah SWT untuk sebuah perjalanan yang melampaui nalar manusia. Dalam satu malam, beliau diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha, lalu dinaikkan ke langit menembus batas ruang dan waktu. Peristiwa itu dikenal sebagai Isra’ Mi’raj—sebuah pengalaman spiritual yang bukan hanya luar biasa, tetapi juga sarat makna bagi perjalanan risalah Islam.

Pada malam agung itu, Rasulullah SAW tidak sekadar “melihat keajaiban”. Beliau menerima langsung perintah shalat lima waktu, bertemu para nabi terdahulu, bahkan memimpin mereka dalam shalat. Sebuah isyarat kuat bahwa risalah yang beliau bawa adalah penyempurna, dan amanah yang dipikulnya adalah amanah besar untuk seluruh umat manusia.

Peristiwa ini diabadikan Allah SWT dalam firman-Nya:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.”
(QS. Al-Isra [17]: 1)

Menariknya, Allah tidak menyebut Nabi Muhammad SAW dengan gelar “rasul” atau “nabi”, melainkan ‘abdihi’—hamba-Nya. Inilah titik khusus pertama yang patut direnungkan. Di saat Allah hendak memuliakan Rasul-Nya dengan perjalanan paling agung, justru status kehambaan yang ditonjolkan. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa puncak kemuliaan manusia bukan pada jabatan, pengaruh, atau popularitas, melainkan pada ketundukan total kepada-Nya.

Pilihan Rasulullah SAW untuk menjadi “nabi sekaligus hamba”, bukan “nabi sekaligus raja”, semakin menguatkan pesan ini. Kehambaan bukanlah posisi rendah, justru ia adalah derajat tertinggi di sisi Allah. Al-Qur’an bahkan menyebut orang-orang terbaik dengan istilah ‘ibadurrahman—hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih (QS. Al-Furqan [25]: 63).

Jika ditarik sedikit lebih luas, Isra’ Mi’raj juga dapat dibaca sebagai penguatan mental dan spiritual bagi Rasulullah SAW. Peristiwa ini terjadi setelah tahun paling berat dalam hidup beliau—‘āmul ḥuzni—saat Khadijah RA dan Abu Thalib wafat, dua sosok penopang dakwah dan jiwa beliau. Penindasan Quraisy kian brutal, dan jalan dakwah seakan tertutup dari segala arah. Dalam kondisi itulah Allah “mengundang” Rasul-Nya naik menghadap langsung kepada-Nya. Sebuah pesan halus: jalan dakwah ini berat, tapi engkau tidak sendiri.

Namun, sepulang dari perjalanan langit tersebut, Rasulullah SAW justru menghadapi ujian baru. Ketika kisah Isra’ Mi’raj disampaikan kepada masyarakat Makkah, cemoohan dan ejekan pun datang. Sebagian orang yang lemah imannya bahkan memilih keluar dari Islam. Meski demikian, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran itu apa adanya. Beliau tidak menyembunyikan wahyu, meski pahit risikonya. Inilah teladan dakwah yang jujur dan berani: kebenaran tidak diukur dari diterima atau ditolak, tetapi dari sumbernya—Allah SWT.

Dalam rangkaian peristiwa Isra’ Mi’raj pula, tampak jelas keistimewaan Masjid al-Aqsha. Dari tempat inilah Rasulullah SAW memulai Mi’raj ke langit. Masjid ini bukan sekadar situs sejarah, melainkan bagian dari akidah umat Islam. Ia pernah menjadi kiblat pertama, termasuk dalam tiga masjid suci, dan memiliki keutamaan pahala yang besar. Maka, keterikatan umat Islam dengan Masjid al-Aqsha bukan soal geopolitik semata, melainkan ikatan iman.

Di langit, Rasulullah SAW juga diperlihatkan surga, neraka, dan berbagai realitas gaib. Sebelumnya, semua itu beliau imani melalui wahyu—‘ilmul yaqin. Namun pada malam Mi’raj, keyakinan itu naik tingkat menjadi ‘ainul yaqin, karena beliau melihat langsung. Ini memberi pelajaran penting bahwa iman sejati adalah iman yang terus bertumbuh, dari pengetahuan menuju penghayatan.

Puncak dari seluruh rangkaian Isra’ Mi’raj adalah shalat. Hanya syariat shalat yang diwajibkan langsung oleh Allah tanpa perantara malaikat Jibril. Ini menunjukkan betapa sentralnya shalat dalam Islam. Ia bukan sekadar ritual, tetapi tiang agama, penghubung langit dan bumi, serta sarana setiap hamba untuk “mi’raj” secara spiritual setiap hari.

Dari satu malam yang sunyi di Makkah, lahirlah ajaran-ajaran besar yang membentuk peradaban Islam. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa kehambaan adalah kemuliaan, shalat adalah kekuatan, dan dakwah adalah jalan panjang yang membutuhkan iman, keberanian, serta keteguhan hati. Sebuah peristiwa khusus, yang hikmahnya terus mengalir untuk seluruh umat hingga hari ini.