Selamat Datang di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi

WhatsApp Icon 1




Doa Melihat Hilal dan Doa Awal Ramadhan: Menyambut Tamu Agung dengan Munajat
16 Feb 2026
Doa Melihat Hilal dan Doa Awal Ramadhan: Menyambut Tamu Agung dengan Munajat


Doa Melihat Hilal dan Doa Awal Ramadhan: Menyambut Tamu Agung dengan Munajat

Pancor — Ramadhan tidak pernah datang dengan gegap gempita suara, tetapi dengan tanda yang lembut: sepotong hilal di ufuk barat. Sejak dahulu, kaum muslimin menengadahkan wajah ke langit, menanti cahaya tipis itu sebagai pertanda hadirnya tamu agung—bulan penuh ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka.

Dalam khazanah ulama, menyambut Ramadhan bukan sekadar memastikan tanggal, melainkan mempersiapkan hati. Para ulama seperti dalam Ithāfu Ahlil Islām bi Khushūshiyyāti ash-Shiyām (hlm. 108–109) menghimpun doa-doa yang dibaca Rasulullah ﷺ ketika melihat hilal dan ketika memasuki bulan Ramadhan. Doa-doa ini bersumber dari riwayat hadits yang otoritatif.

Ketika Hilal Itu Tampak

Rasulullah ﷺ, sebagaimana diriwayatkan oleh dalam Musnad Ahmad, apabila melihat bulan sabit berdoa:

اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ العَظِيْمِ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الشَّهْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ الْقَدَرِ، وَمِنْ شَرِّ الْمحَشْرِ

Allāhu akbaru, lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘azhīmi. Allāhumma innī as’aluka khaira hādzas syahri, wa a‘ūdzu bika min syarril qadari, wa min syarril mahsyari.

Artinya:
 “Allah Maha Besar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan takdir serta keburukan hari mahsyar.”

Doa ini bukan sekadar ucapan pembuka bulan. Ia adalah pengakuan bahwa Ramadhan bukan milik manusia, melainkan anugerah Allah. Ada pengagungan (takbir), ada ketundukan (lā haula wa lā quwwata), dan ada permohonan perlindungan dari takdir yang buruk serta kegentingan hari kebangkitan. Seolah-olah seorang hamba berkata: Ya Allah, aku tidak mampu menyambut Ramadhan tanpa pertolongan-Mu.

Saat Ramadhan Benar-Benar Tiba

Ketika bulan itu telah masuk, Rasulullah ﷺ kembali bermunajat. Riwayat dari dan menyebutkan doa beliau:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَسَلِّمْهُ مِنِّيْ

Allāhumma sallimnī li Ramadhāna, wa sallim Ramadhāna lī, wa sallimhu minnī.

Artinya:
 “Ya Allah, selamatkan aku agar dapat menjalani Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan selamatkan aku darinya.”

Doa ini terasa sangat manusiawi. Ada harap agar umur dipanjangkan dan kesehatan dijaga. Ada keinginan agar Ramadhan datang tanpa penghalang. Dan yang paling dalam: permohonan agar diri diselamatkan dari maksiat selama Ramadhan. Sebab betapa banyak orang yang memasuki Ramadhan, tetapi Ramadhan tidak benar-benar masuk ke dalam hatinya.

Doa dan Kesakralan Hati

Dalam Al-Adzkar, menjelaskan bahwa doa memiliki adab yang harus dijaga. Berdoa di waktu-waktu mulia seperti sepertiga malam terakhir, bulan Ramadhan, dan hari Jumat. Menghadap kiblat, mengangkat tangan, merendahkan suara, menghadirkan keyakinan penuh bahwa Allah Maha Mendengar.

Beliau juga menekankan pentingnya tobat dan membersihkan hak-hak sesama sebelum berdoa. Sebab doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cermin kebersihan hati.

Ramadhan Dimulai dari Doa

Menyambut Ramadhan dengan doa adalah tanda bahwa kita memahami hakikatnya. Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah perjalanan ruhani. Dan setiap perjalanan agung selalu dimulai dengan permohonan pertolongan.

Maka ketika hilal itu kembali terlihat, jangan hanya mengabadikannya dalam foto. Abadikan ia dalam doa. Karena mungkin saja, itulah Ramadhan terakhir yang Allah perkenankan kita temui.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.