Doa Paling Mustajab
Doa Paling Mustajab
Karya: Jayengatma
Dari semua doa yang diajarkan di sekolah, Tina paling hafal doa masuk kamar mandi.
“Allahumma inni a’udzubika minal khubutsi wal khabaits.”
Ironis, sebab kamar mandi di rumahnya dulu hanyalah bilik bambu, pintunya bolong, atapnya bocor. Ia mengucapkannya dengan khidmat, seolah Tuhan memang duduk di balik genteng yang hampir roboh.
Ustadzah bilang, doa itu melindungi kita dari setan laki-laki dan perempuan. Tina kecil selalu mengulang-ulang doa itu, tapi di hatinya muncul pertanyaan lain:
Kalau doa bisa melindungi, kenapa doa mama tidak melindunginya dari cerai?
Kalau doa bisa menjaga, kenapa doa abah tidak membuatnya lebih sholeh?
Kalau doa bisa menguatkan, kenapa doa Tina sendiri tidak cukup untuk membuatnya kuat?
Tina mulai ragu. Apa doa sungguh-sungguh sampai pada Tuhan, atau hanya hafalan untuk menenangkan hati manusia kecil seperti dirinya?
“Perempuan sholehah itu sabar dan patuh,” kata ustadzahnya suatu hari.
Anak-anak perempuan menunduk. Anak-anak lelaki cekikikan, merasa punya hak menagih kesabaran itu suatu saat nanti.
Tina ikut menunduk. Ia belum mengerti, tapi dalam hatinya bertanya: apakah sholehah berarti menutup mulut meski perut lapar?
---
Dua puluh tahun kemudian, Tina bekerja di toko kelontong. Tangannya sudah hafal tekstur karung beras: kasar, meninggalkan serabut putih di telapak. Kardus mie instan yang diseretnya sering sobek, mie berhamburan ke lantai. Sesekali ia menemukan batang rokok bekas nyelip di antara dus, entah siapa yang iseng.
Matanya perih karena kantuk, tapi tetap harus menghitung kembalian. Dua ribu rupiah bisa lebih mahal daripada harga dirinya.
“Tin, jangan pulang malam-malam. Perempuan itu harus jaga diri,” tegur Bu Mirah suatu malam.
Ia bicara sambil menimba air dari sumur. Gayung plastik biru di tangannya sudah retak, diikat karet gelang supaya tidak patah. Sorot matanya tajam, seakan sedang menimbang dosa-dosa.
Tina tersenyum, menahan pedih. “Iya, Bu.”
Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa pulang malam berarti listrik rumah tetap menyala, perut tetap terisi?
---
Bu Mirah punya doanya sendiri. Ia menikah saat kelas dua SMP, bukan karena cinta, tapi karena dipergoki tidur di beranda rumah tetangga laki-laki. Orang-orang kampung tak pernah mau tahu, bahwa malam itu ia hanya ketiduran setelah main petak umpet.
“Daripada bikin malu keluarga, nikahkan saja,” kata ayahnya waktu itu.
Pernikahan yang dipaksakan tidak membuatnya bahagia. Suaminya suka berjudi, sering mabuk, dan tangannya lebih sering mendarat di wajah daripada memberi nafkah. Tiap malam, Bu Mirah menutup luka dengan bedak tabur murahan agar anak-anaknya tidak bertanya.
Doa Bu Mirah lirih, diucapkan di antara bunyi gayung menimba air:
“Ya Allah, kalau rumah tangga ini ujian, berilah aku sabar. Tapi kalau ini azab, ajari aku jalan keluar.”
---
Beberapa hari kemudian, tetangga depan rumah meninggal. Seorang kakek tua, hidupnya sebatang kara. Ruang tamunya penuh pelayat, suara yasin menggema.
“Kasihan ya, hidupnya sendirian. Mudah-mudahan husnul khatimah,” kata seseorang.
Tina menunduk. Ia masih ingat betul, kakek itu sering berbagi rokoknya dengan pemuda kampung yang begadang, meski dirinya jarang makan malam. Ia suka menyingkirkan batu di jalan agar anak-anak sekolah tidak tersandung. Tidak ada yang tahu kenapa ia tidak pernah menikah. Ada yang bilang ia menolak cinta pertamanya karena harus merawat ibunya yang sakit, ada pula yang bilang ia memang memilih hidup sendiri. Tidak ada yang benar-benar tahu.
Yang jelas, ketika lapar ia sering mengais sisa sayur di bak sampah warung. Tidak ada yang peduli saat itu. Baru setelah mati, semua orang mendadak merasa dekat.
Doa untuknya bergema:
“Ya Allah, terimalah amalnya, lapangkan kuburnya, jadikan kesendiriannya di dunia menjadi cahaya di akhirat.”
---
Di toko, Tina pernah salah memberi kembalian dua ribu rupiah. Bosnya, seorang pria paruh baya berkopiah putih, langsung mengomel:
“Kamu ini sholat nggak sih? Orang kalau sholat itu teliti! Jangan sampai uang bikin kamu khilaf.”
Tina menunduk. “Saya sholat, Pak. Tadi Dzhuhur di mushola belakang.”
Bosnya mendengus. “Sholat tapi masih salah. Percuma!”
Tina menggigit bibir. Rupanya, sah atau tidaknya sholat bisa diukur dari selembar uang receh.
Namun bosnya bukan tanpa beban. Orang-orang tahu, istrinya meninggalkannya setahun lalu. Ia kini sendirian membesarkan dua anak: seorang remaja laki-laki yang pendiam dan sering bolos sekolah, serta seorang anak perempuan kecil yang selalu menempel padanya, minta ditunggu sampai tidur.
Kadang, selepas mengomel di toko, ia terdengar berdoa di mushola kecil belakang gudang:
“Ya Allah, kuatkan aku jadi ayah sekaligus ibu. Jangan biarkan anak-anakku kehilangan masa depan karena kesalahanku.”
Doa itu tak pernah terdengar pelanggan. Yang terlihat hanya wajah keras dan kata-kata pedas. Tapi di baliknya, ada rapuh yang tak bisa ia bagi pada siapa pun.
---
Di rumah kontrakan kecilnya, toa masjid menggema. Malam itu, pengajian membahas tanda-tanda perempuan baik-baik.
Ustadz dengan suara lantang menyebut daftar panjang:
“Pakaiannya harus menutup aurat, jalannya harus tertunduk, suaranya jangan dibuat merdu. Itulah tanda perempuan sholehah.”
Orang-orang mengangguk. Lembar fotokopian yang dibagikan panitia basah terkena gerimis, tinta hitamnya luntur jadi noda. Tina menatapnya lalu tersenyum getir.
Tidak ada satu pun kalimat tentang bagaimana memperlakukan tetangga yang kesusahan, atau bagaimana menolong fakir miskin.
Pak Ustadz yang sering mengisi pengajian di masjid baru itu dikenal luas di kampung. Suaranya lantang, tangannya selalu terangkat tinggi setiap kali berdoa. Orang-orang menyebutnya “ahli ibadah.”
Di beranda rumahnya, toples-toples garam dijajarkan rapi. Katanya, garam itu bisa membersihkan rumah dari aura negatif. “Tinggal tabur di sudut ruangan, insya Allah jin-jin kabur,” begitu ia meyakinkan jamaah.
Di balik wibawanya, istrinya ada dua, anaknya sudah belasan. Sering terlihat istri pertamanya ke pasar dengan wajah letih, membawa belanjaan di tangan kanan dan bayi di tangan kiri. Sementara istri mudanya, lebih muda, masih kerap duduk termenung di depan rumah, seolah menyesali sesuatu yang tak bisa lagi ia tarik mundur.
Pak Ustadz selalu menutup ceramahnya dengan doa keras, suaranya bergetar penuh percaya diri:
“Ya Allah, ampunilah umat ini. Masukkan kami ke dalam syurga-Mu. Lapangkan jalan kami menuju ridha-Mu.”
Orang-orang mengamini. Suara “aamiin” menggema, menutup malam dengan penuh harap.
Tina yang duduk di belakang jamaah hanya bisa menunduk. Dalam hati ia bertanya: doa siapa yang lebih didengar doa Pak Ustadz yang hidupnya penuh kemegahan kata-kata, atau doa Bu Mirah yang setiap malam menahan tangis di dapur, atau doa anak-anak sekolah yang kaki mereka belepotan lumpur?
---
Pak Kus adalah orang yang paling bangga dengan masjid baru itu. Ia sering duduk di serambi selepas Isya, mengenakan sarung kotak-kotak dan kopiah putih, menatap kubah berlapis emas yang berkilauan disorot lampu jalan.
“Alhamdulillah, akhirnya masjid kita setara dengan kampung kota. Doa-doa kita terkabul juga,” katanya pada siapa saja yang lewat.
Suatu sore, Tina melewati gang becek seusai hujan. Sandalnya penuh lumpur, celana bawahnya basah kecokelatan. Anak-anak sekolah yang berjalan di depannya malah melepas sepatu, memilih bertelanjang kaki karena jalan terlalu licin.
“Lihat, Tin, masjid kita jadi kebanggaan!” seru Pak Kus dengan dada membusung.
Tina tersenyum samar. “Iya, Pak. Cuma sayang, jalan ke sekolah makin susah kalau hujan.”
Pak Kus terkekeh, mengibaskan tangan. “Masjid dulu, Tin. Jalan bisa belakangan. Iman itu yang utama.”
Doa Pak Kus sederhana, penuh percaya diri:
“Ya Allah, jadikan kampung kami berkah, karena masjid kami megah.”
Tina hanya mengangguk. Dalam hati ia bertanya: iman siapa yang utama iman orang yang bisa berjalan mulus di lantai marmer masjid, atau iman anak-anak yang setiap hari harus menembus lumpur untuk sampai ke sekolah?
---
Di sekolah dasar dekat masjid megah itu, anak-anak duduk bersila di lantai kelas yang retak-retak. Cat dindingnya mengelupas, papan tulisnya miring, kapurnya tinggal sisa-sisa. Bau kapur bercampur dengan bau keringat dan minyak rambut murahan.
Di luar, hujan baru reda, sepatu mereka basah kuyup, beberapa sudah putus talinya.
Ustadzah meminta mereka menghafal doa sebelum belajar. Suaranya lantang, seperti suara toa di masjid. Anak-anak mengucapkannya serempak, beberapa terbata-bata karena lapar.
“Allahumma 'allimna ma jahilna wa dzakkirna mala nafham wazidna 'ilma wa’al hiqna bissholihin “
Seorang anak laki-laki yang perutnya kempis menunduk. Ia baru saja mengantar ibunya jualan sayur sebelum berangkat sekolah. Tasnya sobek di bagian bawah, bukunya dibungkus plastik bekas belanja.
Di sampingnya, seorang anak perempuan menahan air mata karena uang jajannya diambil kakaknya untuk beli rokok.
Doa yang keluar dari bibir mereka sebenarnya bukan doa yang tertulis di buku paket agama.
Di kepala mereka, doa-doa itu terdengar begini:
“Ya Tuhan, semoga Ibu nggak dipukul Bapak malam ini.”
“Ya Tuhan, semoga aku nggak disuruh berhenti sekolah.”
“Ya Tuhan, semoga jalan ke sekolah nggak banjir besok, sepatuku cuma satu-satunya ini.”
“Ya Tuhan, semoga perutku kenyang sebelum ulangan supaya nggak pusing.”
Suara doa itu tak terdengar oleh ustadzah, karena anak-anak hanya berbisik di hati. Tapi doa mereka lebih tulus daripada hafalan yang mereka ucapkan keras-keras.
---
Malam itu, Tina duduk di beranda. Ember bekas cat menampung air hujan yang menetes dari genteng, menghasilkan bunyi tuk… tuk… tuk… monoton. Airnya hampir luber.
Bantal di kamarnya lembap, mengeluarkan bau apak. Selimut tipis digantung di kursi, tak kunjung kering.
Di kejauhan, suara motor knalpot blong meraung, mengalahkan derasnya hujan.
Ia mengingat doa-doa yang dihafalnya: doa tidur, doa makan, doa hujan. Tapi tidak ada doa untuk menghadapi cibiran tetangga, tidak ada doa agar listrik tidak diputus, tidak ada doa untuk menolak hinaan bos, atau menutup mulut ketika dunia menghakimi perempuan yang belum menikah.
Akhirnya, ia berdoa dengan kata-katanya sendiri:
“Ya Tuhan, Engkau tahu semua yang aku rasakan. Ampuni aku bila hatiku masih berat, dan ajari aku menerima hidup ini dengan ikhlas.”
---
Keesokan harinya, dunia tetap sama. Tetangga masih menilai, jalan masih becek, bos toko tetap cerewet.
Bu Mirah masih menimba air dengan gayung retak, Pak Kus masih bangga dengan masjid berlapis emas.
Tina melangkah dengan mata lebih jernih, mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan menatap kehidupan yang keras itu tanpa takut lagi akan penilaian orang.
Hidup tidak berubah. Tapi doa-doa itu, meski tak pernah tercatat di buku doa harian, jadi satu-satunya alasan orang-orang seperti Tina masih bisa bangun esok pagi.
Kesalehan, ternyata, bukan label yang ditempelkan orang lain. Ia lahir dari keberanian untuk tetap jujur, tetap bekerja, tetap bertahan meski dunia sibuk menghitung pahala mereka sendiri.
Dan doa paling mustajab itu bukanlah doa yang terdengar indah di mimbar, bukan doa panjang dengan bahasa Arab yang fasih. Doa paling mustajab adalah doa yang membuat manusia tetap hidup doa Tina, Bu Mirah, anak-anak, juga doa orang-orang yang tidak pernah dipandang mulia.
Karena barangkali, doa paling mustajab bukanlah yang segera terkabul. Tapi doa yang, meski dunia tetap berat, membuat manusia masih sanggup bertahan.