Selamat Datang di Yayasan Pendidikan Hamzanwadi

WhatsApp Icon 1




TGB Dan Seni Menyampaikan Nasihat: Hati, Lisan, dan Pemahaman Manusia
29 Sep 2025
TGB Dan Seni Menyampaikan Nasihat: Hati, Lisan, dan Pemahaman Manusia


TGB Dan Seni Menyampaikan Nasihat: Hati, Lisan, dan Pemahaman Manusia


Ada ungkapan ulama menyatakan:

"لا يفيد الوعظ إلا بثلاث: حرارة القلب، وطلاقة اللسان، ومعرفة طبائع الإنسان"

"Nasihat tidak akan bermanfaat kecuali dengan tiga hal: ketulusan dan kehangatan hati, kefasihan lisan, serta pengetahuan tentang tabiat manusia." (Dr. Musthofa As- Siba'i) 

Tiga hal ini bukan sekadar teori, melainkan seni yang harus dimiliki setiap pendakwah, guru, ataupun pemimpin. Dan di antara tokoh kontemporer yang mencontohkan hal ini adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. M. Zainul Majdi, Lc., MA.

1. Kehangatan Hati: Tulus dalam Menasihati

Nasihat yang lahir dari hati yang tulus akan sampai ke hati. TGB selalu menekankan pentingnya menyampaikan kebenaran dengan *rahmah* (kasih sayang). Dalam berbagai ceramahnya, beliau tidak menegur umat dengan nada menghakimi, tetapi dengan ajakan yang menyejukkan. Kehangatan inilah yang membuat jamaah merasa dirangkul, bukan digurui.

2. Kefasihan Lisan: Bahasa yang Menyentuh

Allah menganugerahkan kefasihan lisan pada sebagian hamba-Nya, dan TGB dikenal dengan tutur kata yang jernih, runtut, serta sarat hikmah. Beliau mampu mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, bahkan tafsir klasik dan kontemporer, lalu meramunya dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas. Kefasihan lisannya tidak hanya pada pilihan kata, tetapi juga dalam mengatur intonasi, tempo, dan penekanan sehingga nasihat terasa hidup.

3. Memahami Tabiat Manusia: Dakwah Kontekstual

Keberhasilan sebuah nasihat juga terletak pada kemampuan menyesuaikannya dengan kondisi pendengar. Inilah yang terlihat dari pendekatan TGB. Ketika berbicara di kalangan akademisi, beliau mengutip pemikiran ulama dan cendekiawan dunia. Namun, ketika berhadapan dengan masyarakat desa, bahasa beliau sederhana dan membumi. Beliau memahami benar bahwa setiap manusia memiliki jalan masuk hatinya masing-masing.

Apa yang dicontohkan guru kita TGB sejalan dengan ungkapan hikmah tadi. Nasihat tidak bisa asal disampaikan, melainkan membutuhkan hati yang ikhlas, lisan yang fasih, dan pemahaman mendalam tentang manusia.

Inilah warisan tradisi ulama yang hidup hingga kini: menyampaikan kebenaran dengan cara yang penuh cinta, lembut, dan tepat sasaran. Sebab pada akhirnya, nasihat yang benar-benar bermanfaat bukan hanya terdengar di telinga, tetapi juga menetap di hati, lalu menggerakkan amal.

Sayuti Hamdani 
Jakarta, 19 - 9- 2025.